Sabtu, 15 September 2012
Minggu, 13 Mei 2012
Shadow
Minggu, 06 Mei 2012
Question Mark
Buku ini adalah tempat dimana saya akan menuliskan pertanyaan-pertanyaan yang sepele, yang membuat saya penasaran, membuat saya kepikiran namun bukan pertanyaan yang dibuat-buat. Pertanyaan yang tadinya saya ingin satu hari satu pertanyaan namun rasanya seperti diburu-buru saja. Jadi saya putuskan untuk menuliskan pertanyaan jika memang sedang ada pertanyaan yang melintas.
Buku ini tidak hanya akan saya tuliskan sendiri, karena jawabannya akan berasal dari orang-orang yang sekiranya berpengetahuan akan hal yang saya tanyakan hingga orang yang saya ingin tahu jawabannya dari pertanyaan saya. Satu pertanyaan bisa saja dijawab oleh beberapa orang. Atau mungkin ada orang yang ingin menjawab tanpa saya minta juga diperkenankan. Dan mungkin saya juga akan menuliskan jawaban atas pertanyaan seseorang kepada saya, pertanyaan yang membuat saya berpikir berulang kali untuk menjawabnya secara langsung tentunya.
Ini bukan kerjaan iseng, ini serius. Saya merasa umur saya dan manusia pada umumnya tidak akan cukup untuk mengetahui segala isi dunia ini dengan baik. Memang tidak semuanya perlu diketahui, tapi kalau ada kesempatan mengapa tidak? Jadi, Umo adalah cara saya untuk mengetahui. Melalui pandangan manusia-manusia selain diri saya. Saya yakin ada banyak hal menarik di dunia ini yang tidak akan pernah saya rasakan tetapi orang lain rasakan. Ada banyak hal buruk di dunia ini yang tidak saya ketahui. Dan juga banyak hal di dunia ini yang hanya saya bisa pertanyakan.
Yak, alasan diatas adalah alasan yang dilebih-lebihkan. Alasan sederhananya karena saya ini orangnya pemalu, malu kalau bertanya langsung. Karena katanya malu bertanya sesat dijalan, jadi saya memilih menuliskan pertanyaan saya dan meminta seseorang menuliskan jawaban atas pertanyaan saya. Agar sewaktu-waktu jika sedang mencari jalan saya hanya perlu membuka buku ini tanpa mengingat-ngingat karena saya ini orangnya gampang lupa.
Kamis, 12 April 2012
Merekam Minor
17 artis, 17 karya bertemakan minoritas. Saya tidak terlibat dalam pemilihan tema, tapi saya tahu pasti butuh waktu lama bagi saya untuk menentukan apa yang akan saya angkat. Cukup lama, bahkan terasa sangatlah lama bagi saya dari pemilihan konsep hingga proses eksekusi itu sendiri. Karena keteteran oleh kegiatan kuliah saya sempat menelantarkan pameran ini, bahkan sempat datang kuratorial tanpa konsep sama sekali dikepala. Saya sangatlah payah!
Begitu banyak kejutan di pameran ini, sampai-sampai saya lelah bertanya 'sekarang apa lagi?!' Singkat cerita akhirnya konsep saya disetujui dan saya mulai menggarapnya. Ingin menyoroti anak-anak downsyndrome dengan cita-citanya. Berbagai kesulitan menemukan alamat pasti yayasan downsyndrome di jogja, akhirnya saya memutuskan untuk beralih ke anak-anak difabel. Lama saya bergelut di sekolah anak-anak berkebutuhan khusus ini, mulai dari soal perijinan, pendekatan, dan pergolakan batin pribadi. Lama saya disini tidaklah memakan waktu berbulan-bulan, hanya sekitar 4-5 hari namun proses eksekusi tidaklah berjalan sesuai keinginan saya.
3 kali kunjungan saya ke sekolah sama sekali tidak membuahkan hasil, saya lebih banyak merenung dan memperhatikan. Saya sibuk merasa tidak enak hati, dan bertanya-tanya 'gimana kalau saya yang jadi orangtua mereka? ijinin orang kayak saya motret anaknya nggak?' Perasaan-perasaan sungkan seperti itulah yang merundung saya. Tapi untunglah saya punya teman-teman yang baik dan mau datang mensupport saya. Tidak akan saya lupakan bagaiamana salah satu teman saya berkata 'nanti kalau aku punya anak difabel, aku ga bakal malu. Kalau orang kayak kamu dateng aku bakal dengan seneng hati nerima karena anakku spesial'. Inilah titik balik saya, pembicaraan dilorong sekolah waktu itulah yang akhirnya membuat saya akhirnya mulai memotret.
Walaupun tidak berhasil mendapatkan anak-anak dengan wajah mongoloid tapi saya tetap bersyukur. Saya mengambil 3 orang anak, Anis, Kevin, dan Dion. Dengan tema foto yang berbeda, dua diantara 3 saya puas akan hasilnya. Namun kurator pameran kami memilih ketiganya, saya senang sekaligus terkejut karena tanggapannya terhadap karya saya positif. Sampai saya bertanya-tanya jangan-jangan ada kejutan lagi.
Tentunya kalau hidup ga ada kejutan bukan hidup namanya. H-1 malam saat pendisplayan karya. Disaat ketiga karya saya sudah di frame, ada permintaan dari kurator soal mounting dan frame, kemudian saya bersiap mengganti mounting. Kata teman saya dipanggil lagi sama kurator, saya kira becanda. Intinya ketiga karya sama dieliminasi dan hanya diwakilkan oleh satu foto saya. Dalam hati 'ini becanda kan?' sambil senyum ala joker.
Sebenarnya apa yang terjadi? Jadi H-1 pameran saya masih saja memotret. Kali ini saya berhasil mendapatkan anak downsyndrome. Semangat saya waktu itu 'Hajaaar bleh..'. Dengan proses kuratorial yang diluar kebiasaan, yaitu melalui bbm dan dilakukan pada waktu yang last minute akhirnya sang kurator memilih foto yang akhirnya menjadi karya yang dipamerkan. Saya dibuat tidak bisa berhenti tersenyum berkenalan dengan Arin anak perempuan spesial berumur 12 tahun dengan segudang bakatnya. Atau seperti yang kakaknya tulis 'Our cute little angle' ya Arin memang bagaikan seorang malaikat. Ia bernyanyi dan menyanyi dengan penuh penghayatan didepan saya, tidak ada bedanya dia dan anak lainnya. Arin itu spesial :)

Minoritas: (Tak) Melulu Citra Marginal

Keunikan pameran pun semakin tampak dengan ditampilkannya potret seorang gadis difabel yang dengan gigih melakukan gerakan tari balet. Perspektif diambil dari seorang gadis difabel di tengah bayang-bayang para balerina yang sedang menari dengan moleknya. Penggambaran emosi terekspresikan semakin kuat dengan latar belakang gelap dan air muka sedih yang tertampil dari wajah si balerina. Efek tersebut dengan sempurna menggambarkan pergolakan batin sang gadis difabel untuk menjadi bintang. Karena itulah potret yang berjudul Wish Upon a Star buah karya Satria Dewi Anjaswari ini menjadi adibintang dalam pameran tersebut.
Semakin larut, semakin berjubel pengunjung memenuhi Ruang Sidang I Gelanggang Mahasiswa UGM, Sabtu (31/3). Secara bergantian mereka mencerap satu persatu potret yang dipamerkan. Sesekali, mereka menghentikan langkah untuk melihat bagaimana potret kaum minoritas tertampil melalui alat musik underground yang berdampingan dengan karya sang fotografer. Pun, panitia penyelenggara berhasil menyulap ruang pameran dengan penuh nuansa sentimental. Lampu remang setinggi ubun-ubun pengunjung digantung di depan setiap karya. Potret-potret saling berangkaian antara objek manusia dan objek benda dalam wujudnya sebagai yang terlupakan.
Selama ini, “Minoritas” menjadi istilah yang cukup populer dalam menggambarkan golongan yang justru tidak populer. Persoalan dari golongan yang diminorkan selalu muncul ke permukaan, namun pada akhirnya mereka akan selalu menjadi kelompok yang terpinggirkan. Inilah yang membuat UKM UFO mengangkat “Minoritas” sebagai tema yang layak diusung dalam pameran foto mereka.
Sebagian besar karya dalam pameran ini berefleksi pada keseharian yang berkelindan dengan betapa majemuknya aspek kehidupan masyarakat. Beragam sudut pandang ditonjolkan dari kaum minoritas. Fotografer berhasil menuangkannya ke dalam potret-potret yang membidik komunitas, musik, lingkungan, budaya, difabel, gender dan keagamaan menjadi karya yang patut diapresiasi. Dari segi pengambilan potret yang detail, fotografer mengantarkan pesan-pesan itu dengan tanpa berusaha menjadi patron.
Seperti misalnya, di sudut kiri ketika memasuki ruang pameran, terlihat dua potret sepasang kekasih homoseksual berdekapan di bawah shower. Kisah homoseksual tersebut dirangkaikan dengan lanjutan potret, sepasang kekasih homoseksual lainnya yang bercumbu di dalam gelap. Adalah Tidak Bisa di Luar, jepretan Meirani Indrihastuti Khalik, yang mengisahkan bagaimana kaum homoseksual masih menjadi pergunjingan di tengah masyarakat Indonesia. Akibat ketatnya norma-norma sosial, mereka tidak mampu menunjukkan ekspresi mereka yang sesungguhnya; tampilan vulgar hanya bisa termanifestasikan di depan orang-orang yang bisa memahami mereka.
Modernitas yang menenggelamkan masyarakat ke dalam rutinitas dan kehidupan yang menjemukan pun turut menjadi sasaran potret. Tak khayal, potret buah karya Nur Aditya Rizali menyuguhkan nostalgia terhadap permainan tradisional. Ketapel, yoyo, gangsing, dan pistol kayu mewakili bentuk-bentuk dolanan yang kian terpinggirkan. Potret berjudul Mainanku ini seakan hendak menceritakan bagaimana dolanan khas daerah tersisih dari arus perkembangan teknologi dengan membandingkannya pada permainan modern stick Playstation.
Tak berhenti pada konflik kesenjangan sosial, kesenjangan bentuk tubuh pun menjadi pilihan objek potret. Seorang pria obesitas didaulat sebagai model dalam pameran kali ini. Potret dengan ukuran besar itu dipajang di tengah fitting room dengan ornamen dua celana jeans berukuran small tergantung di depannya. Selain bersesakan di tengah fitting room, di sana ia terlihat kesulitan menarik risleting celananya. Potret yang berjudul “No Size for Me” buah karya Faizal Afnan ini menceritakan bagaimana orang-orang dengan ukuran tubuh besar acapkali kesulitan mencari pakaian karena bentuk tubuhnya yang tidak umum.
Kerja keras para fotografer dalam mengumpulkan kisah-kisah minoritas ini merefleksikan kepedulian atas fenomena mereka yang terpinggirkan dan terlupakan dalam realita masyarakat. Melalui potret-potret itu, para fotografer hendak membangun kesadaran pengunjung untuk saling mengapresiasi keragaman, sekalipun dalam bentuknya sebagai minoritas.[Danny Izza, Farah Dinna Pratiwi]
Jumat, 06 Januari 2012
I Want
I want to love you simply,
in words not spoken:
tinder to flame which transforms it to ash
I want to love you simply,
in signs not expressed:
clouds to the rain which make them evanescence
The Poetry of Sapardi Djoko Damono
Sabtu, 31 Desember 2011
Fast Forward - Rewind New Years Eve
Jumat, 09 Desember 2011
Sabtu, 03 Desember 2011
GBS-Jazz Mben Senen

It's the end of 2011 so I'm gonna upload what I have on my HD before it goes expired. So after their flawless performance I'm officially one of Gugun Blues Shelter (GBS) listener. And here they are playing at Jazz Mben Senen. This is my first time going to Jazz Mben Senen. I already heard everyone talking about it but none of the talk made me going to the show, until GBS play's there. They play about 3 or maybe 2 songs. I feel disappointed. Yes I'm not satisfying by their performance that night. It's like a blink of an eye, it goes too fast. I even questioned myself, 'so it's over? really?' But GBS do a long jamming and they're still steal my heart that night.
Since I'm not that into jazz music, I feel a little bit boring that night and a little bit confusing with the concept of the show. Me and my friend even start arguing and guessing is this show is a spontaneous show or not. First, Jazz Mben Senen is some kind of gathering for people who love jazz, there is a performance and it comes from the crowd it self. The host were like picking up some random people to singing to the front. Why front, not stage? Because there were no stage, it was just a small place and people are sitting on the ground. And based on what I've been listen, Jazz Mben Senen is some kind of a community for people who love jazz. And it been held every Monday in Kompas (national newspaper in Indonesia) Jogja Region Office. That's why the show called Jazz Mben Senen. Senen in Indonesia means Monday. and the crowd is so crowded because it's free. But overall the performance that comes up from the crowds were truly have skill, maybe this is way people keep coming to the show.
Rabu, 30 November 2011

So the picture above is Sweet As Revenge, I don't know a thing about their song or nor them. I spent my time taking pictures for the rest of their performance until I realize that they're not the only band that gonna play that night because I only brought one film. Maybe I'm not enjoying their music but I found they're interesting to be photograph. Or maybe it just the kick ass lighting that RRI's got. So what's new about FSTVLST is finally I see Farid the vocalist wear that bones jeans on stage, if I'm right he D.I.Y it himself. What a talented human being.
Senin, 14 November 2011
I'm Not Moving


And it's gonna be hard... yeah
Cause I have to wanna heal... yeah
The way I feel that I have to get real
The bad beginning paid off by the script performance, but honestly I'm not really enjoying the opening act performance even they're playing good and some of them do the 'I sing a most listenable song so sing a long with me peepz' tricks makes the crowd can't help it but to sing a long. But we've been waiting for too long, I even wish that Gugun Blues Shelter were never on stage because the list of the opening acts were so long and they played a lot of songs too. I already can't feel my feet that night, all I need is The Script too begin their show.
Amaze by the lighting, and the rest of the show. The script was AWESOME that night. I want to thanks god for giving me a chance to watch them play live in Indonesia and see Danny wearing Indonesian National Flag oh and thanks for the guitar pick your crew throw to the crowd Mark. Everybody sing and sing at the top of their lungs. The crowds were like a choir that night, sing along with Danny from the first song until the very last. The script played like 13 songs which is for me is not enough! I want them played the whole two albums and didn't want the show comes to end. Yes, I'm Not Moving! Thanks Guinness, and happy birthday Sir Arthur!
Kamis, 03 November 2011
If Only I
Minggu, 23 Oktober 2011
situ punya salah saya punya masalah
Sabtu, 22 Oktober 2011
don't take it seriously my opinion
Mian Tiara datang dan saya menonton, bertempat di Langgeng Art Foundation yang mungkin tuh surga kayak gitu. Menyanyikan sekitar 7-8 lagu diantaranya HushHushHush, Little Space In Between, Bye-bye Blackbirld, Butterfly, Ini Rindu, dan Disapih dengan aransemen yang berbeda. Tempatnya asik sih, cuman maafin deh kalau kampung tapi kok musik sama suara ga terlalu ngeblend dibeberapa lagu. Beberapa instrumen juga terkadang ditelingga ga ngeblend. Ah itu mungkin karena semut-semut yang saya temui di kamar mandi. ternyata malam itu merupakan acara serambi jazz.
Ga tau deh kenapa, kurang 'nendang' wiidih gilak bahasanya. Mungkin karena jazz itu ga cocok sama outdoor venue ya jadi suaranya terbang-terbang. Terus yang pada nonton juga adem ayem berasa nonton layar tancep gitu, mungkin juga karena Mian Tiara is not an attractive person in stage bikin semakin flat baru pas lagu terakhir dia mau gerak agak banyak dan ngajak penonton untuk ikut gerak. Tapi terlepas dari itu semua tetep suaranya Mian Tiara bikin semriwing.


Senin, 17 Oktober 2011
Sabtu, 15 Oktober 2011
'iya gue ga lama-lama' -raisa
Singkat cerita, h-2/3/4/5 ya pokoknya h-mepetz saya tahu kalau SANTAMONICA jadi openingnya. Eh gila gak tuh? langsung otak jadi nge-blank gitu, santamonica yg udh jarang manggung-manggung tiba-tiba manggung, sesuatu banget mah ini, openingnya LENKA lagi. Namanya juga Benji ya langsung deh pikiran gelap 'gimana pun caranya HARUS ntn santamonica'. Tentunya manusia hanya bisa berncana, banyak banget rintangannya. Mulai dari pesawat yang diundur keberangkatannya gara-gara traffic yang mana waktu itu hari jadi TNI ya taulah ya TNI ngapain tiap ulang tahun. Nggak nyangka kebiasaan mereka ultah tahun ini ngefek kehidup saya. JELAS diundur keberangatan ini bikin saya cemas dan ga berhenti doa jogja-jakarta, bandara-gandaria. Capek senam jantung, takut telat sampe sana cuman ketemu tukang sapu yang lagi beberes. Puji tuhan bisa sampai juga ke Skenoo Hall Gandaria City dalam keadaan acara belum selesai. Santamonica ......speechless coba bisa nonton dari awal dan kenapa bukan santamonica yg konser dan lenka yg jadi opening? *eh
Emang ya ini konser banyak banget ceritanya, pengen cerita tapi males nulisnya. hahaa Kesel juga sama diri sendiri yg karena buru-buru ga tahu kalau SLR is allowed to the venue. preet banget kan? padahal sudah membekali diri dengan perlengkapan sok fotografer yg dengan gobloknya ditinggal di mobil dan pilihannya adalah bawa kamera atau ketinggalan acara. udah tau kan pilihannya mana? Udah gitu didalem liat orang bawa kamera canggih-canggih tapi... ya gitu deh sampai rasanya pengen bejek-bejek trus rebut kamera. Ok stop menye-menye. Lenka nyanyi lagu LIKE A SONG. wohooo mau nangis lebay dipelukannya Lenka rasanya. Begitu naik dia langsung mainin lagu Heart skips a beat, dia juga nyanyiin lagu-lagu dari album pertama seperti The Show, Trouble is a friend, Knock Knock, Don't Let Me Fall sama lagu barunya macam Blinded By love, Everything's ok, dan pas nyanyiin Everything's at once dia nyanyiin lirik yang udah dibuat sama salah satu penonton. My sweetest october ever deh ini kayaknya. Suaranya lenka itu manis banget lebih manis dari es jeruk ketumpahan gula sekarung.
Rabu, 12 Oktober 2011
Kamis, 06 Oktober 2011
Fast Forward -Rewind Take me anywhere I don't care I don't care I don't care
Take me out tonight. Because I want to see people and I want to see life. Driving in your car Oh, please don't drop me home.
The Smiths - There's a light that never goes out
Minggu, 02 Oktober 2011
Sabtu, 01 Oktober 2011
This blog is a pleasure
Beberapa tahun silam, “guru” fotografi miss Flamingo pernah berkata, “jika kalian punya karya, jangan hanya menyimpan karya tersebut dalam hard disk, biarkan orang-orang tau karya kamu, salah satunya dengan membuat pameran”.





















